Suka duka seorang teknisi elektronik

Reparasi TV Tabung di Depan Rumah

Artikel ini diambil dari blognya Om Marsono tanpa izin sama sekali, ya... Pasti diizinkan, deh. Maaf, ya, Pak...

Kejadian-kejadian ini pernah kami alami. Bahkan, ada beberapa kejadian yang terulang berkali-kali. Apakah Anda sudah siap jika mengalami kejadian-kejadian seperti di bawah ini? Setelah membaca artikel ini, mudah-mudahan Anda dapat terhindar dari kejadian serupa.

Pengalaman dan Kesalahan Saat Mereparasi Televisi

Saat melakukan reparasi, lupa memasang kabel ground tabung gambar bisa berakibat fatal. IC program atau IC video-chroma dapat rusak, padahal komponen tersebut sudah sulit dicari di pasaran. Lalu, ke mana harus mencari penggantinya?

Karena sudah berulang kali mengalami kejadian ini, kami membiasakan diri untuk selalu memasang kabel ground terlebih dahulu setiap kali akan memasang soket CRT. Setelah kabel ground terpasang, barulah soket CRT di tancapkan.

Menerima pesawat televisi dalam keadaan mati total juga bisa menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Setelah dikerjakan dan beberapa komponen diganti, ternyata tabung gambar rusak. Konsumen tidak memiliki biaya untuk melanjutkan perbaikan, sehingga pengerjaan dibatalkan dan pembayaran pun batal. Akhirnya, pekerjaan bertambah karena harus melepas kembali komponen pengganti yang sudah terpasang.

Pernah juga menerima televisi mati total. Power supply sudah normal setelah beberapa komponen diganti dan pengerjaan memakan waktu cukup lama. Ternyata, bagian horizontal juga rusak. Setelah di uprek beberapa lama, bagian tersebut akhirnya normal.

Namun, masalah belum selesai. Raster masih gelap, sehingga pengerjaan dilanjutkan sampai raster kembali normal. Kali ini, gambar belum muncul alias televisi belum bisa menerima siaran. Setelah diperiksa, ternyata ada kerusakan pada bagian AGC. Sayangnya, IC yang dibutuhkan sudah tidak dijual lagi. Pekerjaan pun terhenti di tengah jalan. Waktu dan tenaga terbuang, sementara bayaran tidak didapatkan.

Setelah komponen diganti, ternyata pesawat masih bermasalah. Uprek sana-sini, tetapi masalah belum juga klar (istilah bahasa Inggris yang berarti selesai). Akhirnya, kami kembali mencurigai komponen yang sebelumnya telah diganti.

Ketika komponen tersebut dicoba menggunakan komponen dari pesawat lain, hasilnya langsung josss! Akhirnya, televisi kembali normal. Ternyata, komponen yang dibeli sebelumnya palsu, mungkin rusak atau memiliki kualitas KW.5.

Pesawat sudah selesai d ireparasi. Konsumen sudah diberi tahu bahwa televisi selesai diperbaiki beserta besarnya biaya servis. Sambil menunggu konsumen datang mengambil pesawat, televisi tetap menjalani running test. Eee, ternyata tiba-tiba televisi mati mendadak. Setelah diperiksa, flyback nya ternyata koit. Lalu, bagaimana cara menjelaskannya kepada konsumen?

Karena kurang hati-hati, tabung gambar bisa kesampluk atau terbentur sesuatu. Terdengar suara “cesssssssssss...” dan ternyata tabung gambar gembos. Pusing, deh!

Ada cerita lain tentang seorang salesman yang asyik mengobrol dengan teknisi di tempat kerja. Entah bagaimana kejadiannya, tabung televisi berukuran 29 inci tersenggol tangan salesman tersebut. Terdengar suara “ceeeesssss...” dan tabung gambar pun gembos. Gedeeee bayarane!

Saat mereparasi bagian power supply, teknisi bisa saja dikejutkan oleh suara ledakan “daaaarrrrrr!”. Ternyata, elko besar masih menyimpan muatan listrik. Beruntung jika tidak ada komponen yang rusak. Namun, kejadian seperti ini pernah menyebabkan transistor power regulator rusak.

Oleh karena itu, jika menjumpai tegangan B+ tidak keluar, berhati-hatilah saat memeriksa rangkaian power supply. Elko besar kemungkinan masih menyimpan muatan listrik meskipun televisi sudah tidak menyala.

Saat mereparasi televisi dan melakukan pengukuran, tiba-tiba terdengar suara “crr... eeet!”. Terjadi korslet yang mengakibatkan beberapa komponen rusak.

Hal ini bisa terjadi karena kaki-kaki komponen masih “pating crongat” (bahasa Jawa). Kaki komponen masih menonjol panjang karena kurang pendek saat dipotong dalam proses produksi. Jika tidak hati-hati ketika melakukan pengukuran, ujung probe AVO meter dapat menyebabkan hubungan singkat antarkaki komponen.

Karena sudah beberapa kali mengalami kejadian seperti ini, kami membiasakan diri memeriksa dan memotong kaki-kaki komponen yang terlalu panjang sebelum melakukan reparasi.

Karena sering menerima pasien berupa main PCB saja, untuk mencoba menghidupkan televisi terkadang harus mencangkok soket tabung gambar menggunakan kabel-kabel.

Suatu saat, mungkin karena sudah capek dan mengantuk, terjadi kesalahan penyambungan kabel. Akibatnya, tabung gambar rusak. Beruntung, kerusakannya berupa katode short dengan heater, sehingga tabung gambar masih dapat digunakan.

MAKA, KALAU SEDANG MENGANTUK, LEBIH BAIK BERHENTI BEKERJA DAHULU.

Kejadian lain bisa dialami jika berlangganan dengan toko elektronik. Pesawat sudah diambil, tetapi tanda terima justru “ketlingsut” alias hilang atau tidak ditemukan.

Dua atau tiga tahun kemudian, toko menanyakan pesawat tersebut dengan menunjukkan bukti tanda terima. Beruntung jika file-file yang membuktikan bahwa pesawat sudah diambil masih tersimpan dengan rapi. Kalau tidak ada bukti, bisa gegeran (istilah Suroboyoan yang berarti adu mulut).

YA ALLAH, AMPUNILAH DOSA-DOSA HAMBAMU INI.


Pengalaman Teknisi Lain: Komponen Rusak dan Pembayaran Servis

Aduuuuuhhh... ternyata bukan saya saja, ya? Hehehehe...

Barusan dapat garapan TV Polytron yang menggunakan IC kroma TDA8843. Kerusakannya berupa gangguan sinkronisasi. IC dibeli di toko elektronik pertama, lalu dipasang. Begitu televisi dinyalakan, IC langsung panas mongah-mongah, padahal solderan aman-aman saja.

IC dilepas, lalu membeli yang baru di toko elektronik kedua. Setelah dipasang, televisi justru tidak mau start sama sekali. IC dilepas lagi. Masih penasaran, saya membeli IC lagi di toko elektronik ketiga dan memasangnya. Begitu televisi dinyalakan, tetap tidak mau start.

Karena masih penasaran, IC original dipasang kembali. Eeee... televisi mau start, tetapi kerusakannya masih tetap sama. Aduuuuuhhh... apes, apes! (Aisy Romadhona)

....................... ........... Ada yang tahu obat pencegahnya?

Kalau saya, dukanya menjadi teknisi seperti kejadian tadi siang. Saya mendapat garapan TV LG 29 Pearl Black dengan kerusakan cacat bantal. Setelah semua komponen yang rusak diganti, televisi dites dan hasilnya oke.

Setelah itu, pemilik bertanya, “Berapa semua biayanya, Pak?” Saya jawab sekian-sekian. Lalu, pemilik berkata, “Pak, duitnya besok saja, ya? Tadi uangnya terpakai karena ada masalah keluarga. Jadi, maaf, besok saja, ya, Pak?”

Walah-walah, saya sudah membayangkan bisa mengipas-ngipaskan beberapa lembar uang Rp50.000. Eh, ternyata tidak jadi, deh! (Ryanmela)

Pesawat nya sudah diambil belum? Kadang ada konsumen yang seenaknya sendiri, wudele dewe. Pesawat mengalami kerusakan yang sulit, banyak komponen rusak, tetapi konsumen berkata dengan mudah, “Kalau ada komponen yang rusak, ganti saja.”

Begitu pesawat selesai, televisi diambil sambil berkata bahwa pembayarannya besok karena ingin dicoba terlebih dahulu. Setelah ditunggu beberapa hari, konsumen tidak kembali-kembali. Akhirnya, teknisi harus datang untuk menagih pembayaran.

Itulah suka dan duka seorang teknisi. Saya juga terkadang menghadapi hal yang sama. Namun, semua saya kembalikan kepada Yang Mahakuasa. Manusia hanya berencana, tetapi Allah yang menentukan.

Kalau mengalami hal seperti itu, saya biasanya hanya mengelus dada sambil berkata dalam hati, “Hari ini belum rezeki saya.” Saya juga berdoa semoga semua kerugian yang dialami hari ini diganti dengan yang lebih baik esok hari atau lusa nanti.

Saya melakukan hal itu supaya tetap memiliki semangat. (Digitalmas)

Inilah obat yang paling mujarab untuk menghibur hati yang lara.

Ada lagi, lho. Pesawat sudah diganti komponennya yang harganya mahal, hingga ratusan ribu rupiah. Setelah selesai diperbaiki, televisi tidak segera diambil sampai berbulan-bulan.

Kalau begini caranya, lain kali jika akan mengganti komponen mahal, sebaiknya meminta uang muka terlebih dahulu.

Post a Comment for "Suka duka seorang teknisi elektronik"